Pagi hari, pasaran Senin Kliwon, dalam penanggalan bulan jawa Ruwah, tepat pada komplek pemakaman Kembang Putih telah bersiap untuk penyelenggaraan upacara adat tradisi tahunannya warga dusun ini. Dusun Kalinongko Lor berpesta, seluruh warga dusun telah berdandan, berbagai perlengkapan upacara mulai berdatangan, seperti gunungan hasil bumi, tenongan jajan pasar, angkring jodhang, serta tumpeng sego kuning beserta ingkung ayam kampung. Dan, tentu saja hadir resep gastronomi lokal turun temurun, yang menjadi sesaji wajib, yaitu Jadah Ketan.
Tradisi kuno yang berada di tanah perbukitan purba Ciwa Plateau ini, dahulu selalu berlangsung setiap usai panen padi di sawah. Dimana dengan kondisi geografis yang perbukitan berbatu, lahan tadah hujan untuk budidaya padi disini menghasilkan satu kali panen saja dalam setahunnya. Di luar masa tanam padi, warga mengembangkan budidaya pangan lain seperti jagung, ‘gandum’ (sorgum, cantel, jali), palawija, serta beternak sapi dan kambing. Namun, pada masa Orde Baru, daerah ini masuk dalam kategori daerah miskin dan tertinggal, sehingga kemudian program pemerintah masuk dengan pengembangan budidaya tanaman keras pohon jati dan pohon sonokeling, merubah komoditas hasil lahan-lahan kebun mereka dengan ini, karena dianggap komoditas kayu keras inilah yang akan mengentaskan kemiskinan tersebut. Sejak saat itulah, petak-petak sawah warga dusun kemudian menjadi bergeser turun menyewa lahan milik orang tetangga desa dalam wilayah Klaten, yang mempunyai akses sistem irigasi pengairan teratur.
Karena irigasi itulah, sehingga bisa mengembangkan tiga kali musim tanam padi sekarang. Dengan varietas benih padi terbaru, dan pemupukan intensif. Koleksi benih padi ketan lama, sudah tidak dimiliki lagi oleh warga dusun. Dan semakin kesini, labuh tani memang mengalami tantangan yang besar dan berat, menurut beberapa warga dusun ini.
Dan itu salahsatu kenapa, kemudian Nyadran yang belakangan sekarang, mengalami penyesuaian momentum nya tidak lagi usai panen padi, namun tetap menggunakan pedoman jatuhnya hari keramat dusun ini dalam penanggalan bulan jawa Ruwah, yaitu di hari Senin Kliwon.
Siang hari, selepas dhuhur, prosesi seremonial pun dimulai, dimana di depan rumah Dewan Adat yang telah dipasangi tenda traktak memanjang, sudah bersiap 7 (tujuh) Gunungan hasil bumi, 6 (enam) Angkring Jodhang, serta ada puluhan lebih Tenong dan Tenggok Jajan Pasar yang dibawa oleh ibu-ibu yang berdatangan dari seluruh rukun tetangga di wilayah padukuhan ini. Tak berapa lama, barisan perarakan pembawa Gunungan, Angkring dan Tenong itu pun perlahan bergerak memasuki pelataran komplek Makam Kembang Putih. Kemudian, lantunan doa syukur kelimpahan rejeki kepada Yang Maha Kuasa dan doa penghormatan kepada para leluhur yang telah berpulang kembali pada Nya pun berlangsung teduh dan magis. Pada komplek ini bersemayam para leluhur Demang, Bayan dan Bekel yang dahulu memimpin wilayah disini.
Selanjutnya, gunungan-gunungan tersebut dikeluarkan dari pelataran, digeser ke depan gerbang, diletakkan berjajar di tengah jalan dusun disitu, dan kemudian diperebutkan oleh ratusan warga yang bergembira tertawa bersama berdesakan sambil tangan-tangan nya berebut menggapai ragam hasil bumi yang terpasang di ketinggian puncak atas gunungan-gunungan itu. Setelah habis, rombongan puluhan ibu-ibu yang membawa Tenong dan Tenggok pun juga mulai bergerak keluar dari pelataran, unsur membawa pulang kembali dan membagikan isian di dalamnya saat nanti tiba di wilayah rukun tetangga nya masing-masing. Bersamaan dengan itu, pada seberang pelataran makam, tepatnya di halaman belakang rumah warga disitu, yang telah disiapkan unit panggung pendek beserta seperangkat gamelan diatasnya dan arena menari di bagian depannya. Maka, gelaran hiburan rakyat pun turut menyemarakkan suasan pun dimulai, dengan sebuah penampilan pertunjukan seni tradisi Jatilan dari kelompok warga RT 02 Padakuhan Kalinongko Lor.
Namun ternyata, bunyi pertunjukan kesenian lokal tersebut masih berlangsung bertalu-talu, pada sekitaran asar, ada berlanjut rangkaian prosesi Nyadran Kalinongko Lor ini, yaitu Kondangan (Genduren) Rukun Tetangga. Yang bertempat di satu rumah di masing-masing rukun tetangga dalam padukuhan ini. Kami beruntung diperkenankan menyaksikan prosesi Kondangan nya RT 5, dimana deretan sesaji baru dalam Tampah/Tenong dari masing-masing keluarga anggota RT, telah diletakkan pada bagian tengah dan perwakilan keluarga duduk mengelilinginya (kepungan). Prosesi doa permohonan kelimpahan panen untuk sepanjang tahun berjalan ini dihantarkan oleh Pak Rois (beliau ini bertugas menghantarkan doa di semua rumah yang ketempatan kondangan di masing-masing dari tujuh RT yang ada, secara bergiliran satu per satu).
Dan pada pelaksanaan acara kondangan yang sekarang ini, ternyata juga dimaksudkan sekalian sebagai Kondangan (Genduren) Selawenan, yang biasanya dilaksanakan tersendiri pada dua hari setelah Nyadran berlangsung.
Sraddha telah menjadi jalan kegembiraan, sebagai perayaan generasi penerus bersama leluhur nya, atas kesadaran adanya campur tangan Keillahian dalam segala proses kehidupan yang berlangsung hingga kini di gugusan perbukitan purba Ciwa Plateau disini.
“Anak putu kita sedaya mugi mbenjang tesih saged nerasaken Nyadran kados mekaten menika. Kita sareng sengkuyung acara nguri-uri kabudayan Jawi menika, supados mugi-mugi ing tlatah Padukuhan Kalinongko Lor niki saged lestari, saged lumintir dumugi buyut canggah samangkih. “, ungkap Ibu Panewu dari Kapanewon Prambanan, dalam kesempatan ini.